Iman dan Perbuatan

IMAN DAN PERBUATAN

Markus 7:24-37

Si A yang pandai bernyanyi tidak akan bisa dikenal atau diketahui oleh orang banyak, jika tidak pernah tampil di acara menyanyi baik skala besar ataupun kecil. Ketika orang itu merasa bisa menyanyi dan merasa suaranya bagus, akan tetapi tidak mau untuk mengikuti lomba menyanyi atau menyanyi di acara-acara musik. Dia merasa bahwa cukup dia saja yang menikmati suaranya sendiri, jadi orang lain tidak perlu. Sementara si B mau untuk memperdengarkan suara indahnya untuk dinikmati oleh orang lain, sehingga orang lain tahu kalau dia mempunyai suara yang indah. Dari hal tersebut tentunya orang akan mempercayai si B kalau bisa menyanyi daripada percaya kepada si A.

Orang yang merasa bisa menyanyi tersebut bagaikan orang yang mempunyai iman, tapi mengabaikan perbuatan. Dia merasa cukup dengan iman saja tanpa perbuatan. Padahal dalam Yakobus 2:17 dikatakan iman tanpa perbuatan adalah mati. Jika minggu kemarin kita belajar tentang spiritualitas yang benar, bahwa tidak ada pemisahan hal yang rohani dan jasmani, dimana hal tersebut saling terkait dan satu kesatuan. Begitu pula dengan iman dan perbuatan meruapakan rangkaian yang tidak bisa dipisahkan.

Sore hari ini kita mau belajar dari wanita yunani siro fenisia, dimana dia mempunyai iman yang benar, yaitu iman dengan perbuatan. Seperti apa iman wanita tersebut?

1. iman yang benar adalah bersedia untuk merendahkan diri.

Wanita yunani tersebut tahu ketika dia berusaha untuk menemui Yesus, dia akan menemui seorang nabi yang besar dan sangat popular. Padahal dia adalah seorang wanita, rakyat jelata dan bukan siapa-siapa. Di teks yang telah kita baca tadi, Tuhan yesus sedang tidak ingin diganggu. Tapi perempuan itu nekat untuk menemui Tuhan Yesus bahkan berteriak-teriak kepada Tuhan Yesus (dalam Matius 15:22,23). Tuhan Yesus menolaknya bahkan penolakan Yesus sebenarnya sangat menyakitkan hati, yaitu wanita itu dikiaskan dengan seekor anjing. Namun wanita itu tidak menaruh keberatan, bahkan mengiyakan dan semakin memunculkan keberaniannya. Karena iman juga ia tersungjur di kaki Yesus. Sperti anjing yang menunggu remah-remah.

Orang yang mempunyai iman seharusnya juga mampu dalan perbuatannya merendahkan dirinya.

- Ketika kita bersosialisasi sering yang namanya terjadi gesekan, akan tetapi cenderung kita untuk menanggapinya dengan panas hati. Baru diejek sedikit saja, tensi kita sudah naik. Yang keluar biasanya kata-kata titenono… merendahkan diri sungguh suatu hal yang tidak mudah.

- Bapak-ibu bisa bayangkan ketika akan meminta bantuan kepada pembesar atau pejabat atau orang terkenal, tapi bapak ibu dilecehkan bahkan disamakan dengan anjing.

- Dilecehkan atau dihina pasti marah, apalagi kalau punya posisi. Cah lagi wingi sore kok meh macem-macem

Wanita itu bisa merendahkan diri karena mempunyai iman yang benar dan mampu mewujudkannya dalam perbuatan.

2. iman yang benar adalah memperhatikan orang lain dengan kasih.

Pengorbanan wanita yunani tersebut adalah bukan untuk dirinya sendiri, akan tetapi demi kesembuhan anaknya yang dikasihaninya. Wanita tersebut rela untuk mengorbankan dirinya, walaupun sampai merendahkan dirinya. Iman yang benar adalah iman yang mampu memperhatikan orang lain dengan penuh kasih (kalau kita lihat dalam Yakobus 2, ditegaskan bahwa iman yang benar adalah iman yang mampu mengasihani orang lain) semangat mau berkorban untuk orang lain harus mampu kita wujudkan dalam perbuatan kita. Di tengah dunia yang penuh dengan budaya egoisme, rasanya semangat untuk memperhatikan orang lain dengan penuh kasih sudah semakin pudar. Orang-orang cenderung lebih memperhatikan dirinya sendiri, tidak perduli dengan orang lain. Orang di sekitar kita mau jungkir balik itu hak mereka, nanti kalai kita cawe-cawe malah bikin kita repot. Hari ini kita belajar dari wanita yunani, bahwa kita juga perlu memperhatikan orang lain penuh dengan kasih.

3. iman yang benar adalah sabar menantikan jawaban dari Tuhan

Saya yakin dan percaya setiap kita yang hadir disini mempunyai pergumulan dan permasalahan sendiri-sendiri, baik itu yang berat dan ataupun ringan. Dan saya juga yakin setiap pergumulan kita juga telah kita serahkan pada Tuhan. Di tengah penantian jawaban setiap masalah ataupun pergumulan kita, tentunya ada yang lancar sesuai harapan kita tetapi juga ada yang tidak kunjung mendapatkan jawaban. Di tengah penantian kita tersebut banyak hal yang bisa terjadi baik yang positif ataupun yang negatif. Wanita yunani tersebut di tengah harapannya menanti jawaban dari Yesus dengan sabar menanti, walaupun dia harus dihina. Tuhan sedang ingin menguji sampai dimana iman wanita tersebut, dan akhirnya wanita tersebut lulus ujian tersebut. Ada harga yang harus kita bayar jika kita menanti jawaban dari Tuhan, jika kita lulus ujian tersebut, maka niscaya hubungan kita dengan Tuhan akan semakin terjalin dengan indah.

Iman yang benar tidak bisa dilepaskan dari perbuatan kita, itu merupakan satu kesatuan. Sore ini kita belajar dari wanita Yunani siro-fenisia bagaimana aplikasi iman dalam kehidupan kita, dimana kita harus mau untuk merendahkan diri, kita harus mampu memperhatikan orang-orang lemah di sekitar kita dan kita dengan sabar selalu menanti jawaban dari Tuhan setiap masalah dan pergumulan yang sedang kita hadapi. Seperti seorang penyanyi dengan suara yang indah yang bisa didengar dan dinikmati orang lain, begitu pula dengan iman kita yang mampu dilihat dan dinikmati oleh orang lain.

Tuhan memberkati

2 Comments:

Sabda said...

hehe....tetangga saya ada orang tua yang bernama Iman Soepeno, perbuatannya tidak lagi diragukan, bahkan sampai menjelang mautpun masih berkelakar sampai pagi di Pos Rondo ( baca: Ronda ).
Iman Sugiri anak kampung sebelah tidak ada dua jengkal bagian kulit tubuhnya yang tidak bertato.Perkataan dan perbuatannyapun membuat biasa gregetan oarng sekampung.
bahkan waktu Bp Iman Soepeno meninggal kang Iman Sugirilah yang gati-gati sigrak memikul layon Pak Iman Soepeno, meskipun sedikit kerepotan menutupi gambar wanita seksi di pergelangan tanggan karena lengan bajunya menggulung keatas.
Selama prosesi pemakaman itu,tatanggaku yang lain bernama Jeng Genit sewat-sewot sambil menenteng HP Blackcinonya,seolah-olah tidak merelakan jenasah pak iman seopeno tersentuh orang lain.Makhlum sementara itu yang biasa senggal senggol dari sekian banyak anggota kelopmpok dasa wisma hanyalah Jeng Genit.Ataupun Jeng Genit malu kalo ternyata gambar wanta seksi di pergelangan tangan Iman Sugiri lebih semlohay dari dirinya.he...he...malah kakean crito..
Ini baru Fokus :
kok bisa-bisanya ingin masuk surga harus beriman dulu,,,?
saya berkeyakinan bahwa semua orang memilki apa yang dinamakan "kesadaran" ataupun "komitmen" dan sebutan lain yang menjelaskan akan keiingan untuk measuk surga.
Ketika kesadaran itu muncul dalam dirinya, [rakteknya orang akan sulit untuk tetap beriman serta mempertahankan imannya.
sekarang posisi Tuhan dalm praktek hidup orang beriman itu sebagai apa...?
apakah hanya sebatas meneriama keluh kesah masnusia, dan pembuat soal ujian bagi manusia belaka...?
kalau begitu diamanakah letak kebebasan berkehendak yang dicitrakan Tuhan kepada manusia..?
apakah dengan merasa kita beriman maka kita belajar bersabar untuk memanti masuk surga, atayupun oarang beriman menjadi orang yang setia pada proses yang dijalani dihidupnya...?
Sudah dulu ya Pak Ziarah, saya persiapan besok pagi mau mancing ikan...melu ora...
salam

uriplanggeng said...

haha..akhirnya buat blog juga...resolusi 2010 pak..tapi keren..tak dukung dan ku tunggu tulisan2nya..haa
salam penulisan.